Tampilkan postingan dengan label feature. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label feature. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 Mei 2012

Bangcok, Sorkle, Bonbin, Kandhang,...

Silakan perhatikan sekeliling kita dalam keseharian. Ada banyak sekali singkatan. Misalnya telepon genggam disingkat ponsel, angkutan kota disingkat angkot, pencurian kendaraan bermotor disingkat curanmor, dan seterusnya. Bahkan mi rebus tanpa telur disingkat tante rebus, dan istilah ini sudah sangat lazim di warung-warung burjo (bubur kacang ijo) yang banyak berseliweran di area kos-kosan mahasiswa di Yogyakarta. 

Di area kampus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (FIB UGM), mahasiwanya juga tidak kalah kreatif dalam hal singkat menyingkat. Di suatu sudut di wilayah kampus tersebut, terdapat deretan bangku cokelat yang biasa digunakan oleh para mahasiswa sebagai tempat diskusi, daring (dalam jaringan atau online), mengadakan pameran, bazar, atau berjualan dalam rangka pengumpulan dana untuk kegiatan kampus. Area tersebut diistilahkan dengan bangcok yang tidak lain adalah akronim dari bangku cokelat, karena warnanya memang cokelat kayu.

Adalagi kansas (kantin sastra), bangjo (bangku ijo), dan sorkle (ngisor klengkeng). Kansas tidak lain dari kantin mahasiswa, fungsinya sebagai tempat makan, mengobrol, atau ada juga yang memanfaatkannya sebagai tempat mengerjakan tugas kuliah. Sementara bangjo ini fungsinya sama seperti bangcok tadi, hanya saja letaknya agak di sebelah utara FIB UGM. Sorkle sendiri wujudnya berupa dudukan dari semen yang dipoles dengan ubin-ubin berwarna putih di permukaannya. Fungsinya sebagai tempat diskusi, mengobrol ringan tentang remeh-temeh, rapat kegiatan, atau sekadar nyanyi-nyanyi sambil gitaran. Tidak jarang juga ada yang memanfaatkannya sebagai tempat ‘piknik dadakan’ dengan menggelar tikar lalu tiduran di bawahnya. Tidak usah heran, sebab sorkle ini tempatnya rindang. Bagi yang mengerti Bahasa Jawa, sejak tadi pasti sudah mafhum makna ‘ngisor klengkeng’, yakni di bawah pohon klengkeng.

Tidak jauh dari lingkungan FIB UGM, ada maskam (masjid kampus) dan sunmor (Sunday morning). Sunmor ini tak ubahnya pasar pagi yang dihelat setiap hari Minggu pagi; dimulai sekitar pukul 05.30 sampai pukul 11.00 WIB. Banyak warga Jogja yang berjualan di situ, termasuk para mahasiswa dengan beragam kepentingan. Ada yang memang untuk mencari tambahan duit jajan, ada juga yang memanfaatkan momen ini untuk pengumpulan dana kegiatan mereka, seperti berjualan camilan atau ngamen.

Istilah-istilah

Selain jago menyingkat, mahasiswa FIB UGM juga kreatif dalam menciptakan istilah-istilah. Di kampus ini, selain kansas, ada lagi satu kantin mahasiswa yang letaknya di utara area parkir motor. Kantin tersebut namanya bonbin. Entah kenapa diistilahkan demikian, padahal di kantin itu sama sekali tidak dijumpai jerapah, gorila, buaya, monyet, zebra, gajah, aneka unggas, dan sebagainya. Konsepnya pun sama sekali tidak merepresentasikan pemandangan kebun binatang. 

Jika kansas merupakan kantin yang baru dibangun dan ‘katanya’ kantin berstandar internasional dengan berpendingin udara, berpintu kaca, berubin licin-mengkilat, kursi-kursi dan perabot makannya lebih modern bergaya minimalis, bonbin masih lebih diminati. Banyak yang bilang bonbin lebih merakyat dibanding kansas karena tidak berpendingin udara, tidak berubin, kursinya dari kayu yang bisa dipindah sesuka hati, meskipun harga menu nya tidak jauh berbeda dengan kansas.   

Tempat lain yang oleh para mahasiswa dibuatkan nama khasnya adalah gedung Margono. Gedung ini berupa bangunan berlantai empat. Di sini terdapat kantor atau ruang jurusan-jurusan yang ada di FIB, ruang kelas belajar internasional, ruang multimedia, dan ruang seminar. Meskipun sudah jelas-jelas ada tulisan di bagian luar gedung berbunyi “RM Margono Djojohadikusumo”, namun yang namanya mahasiswa memang selalu kreatif. Dengan agak iseng, mereka biasa menyebutnya dengan margondang atau margondes. Margondang terdengar seperti kata yang jika diucapkan bunyinya mirip dengan kosakata yang lazim diucapkan oleh para banci, sementara margondes terdengar bernuansa Spanyol. Oiya, gondes juga merupakan istilah di Jogja yang kepanjangannya adalah ‘gondrong deso’. Mungkin istilah margondes diadaptasi dari sini.  

Ada satu lagi tempat yang juga sangat terkenal seantero FIB. Lokasinya berada di sudut selatan paling dalam kampus. Tempat itu adalah perpustakaan dan ruang kerja para dosen Jurusan Antropologi Budaya. Nama khasnya kandhang

Kandhang merupakan basis tempat berkegiatannya para mahasiswa Antropologi Budaya yang saat ini sayangnya lebih mirip gudang. Kandang beneran; kandang barang-barang kegiatan yang sehabis pakai tidak dikembalikan langsung. Lokasi kandhang menyatu dengan perpustakaan jurusan dan di depannya ada barisan dudukan yang modelnya seperti di sorkle. Maka tidak heran jika tempat ini sudah seperti basecamp para mahasiswa Antropologi Budaya, di mana biasanya diadakan berbagai kegiatan seperti diskusi bulanan, pemutaran film, ataupun sekadar menghabiskan waktu menunggu jam kuliah berikutnya atau setelah kuliah dengan bercanda satu sama lain, mengobrol santai, nyanyi-nyanyi sambil gitaran. 

Itulah beberapa singkatan dan istilah yang berlaku di kalangan mahasiswa FIB UGM. Saya sendiri yakin, di kampus-kampus atau universitas-universitas di tempat bahkan kota lain juga terdapat banyak singkatan dan istilah yang dicipta oleh mahasiswanya sendiri. Kadang-kadang sebagai mahasiswa kita tidak menyadari bahwa istilah-istilah tersebut sebenarnya menarik untuk diceritakan atau dituliskan. Mungkin karena tugas-tugas kuliah dan sebaris daftar kegiatan sudah banyak menyita waktu, tenaga, dan pikiran kita, sehingga hal-hal tersebut dianggap biasa bahkan tidak terpikirkan sama sekali. 

Bonbin (dari luar)

Bangcok

Senin, 03 Mei 2010

Cerita Rusdin, Remaja Indonesia yang Pernah Bekerja Sebagai TKI Ilegal di Malaysia

Rusdin namanya. Usianya baru 19 tahun. Kali pertama kami bertemu dalam workshop Indonesian Youth Media Camp (IYMC) 2008 di Yogyakarta yang pesertanya terdiri dari 31 remaja dari berbagai komunitas se-Indonesia. Rusdin sendiri berasal dari sebuah kampung di Kaledupa, Sulawesi Tenggara. Ia adalah sosok remaja yang humoris, periang, dan mudah bergaul.

Pertengahan November lalu, secara tidak kebetulan kami bertemu lagi. Dian Herdiany, direktur Kampung Halaman, yayasan yang menyelenggakaran workshop IYMC, menelepon saya. Ia menjelaskan bahwa Kampung Halaman akan mengadakan proyek dokumenter mengenai perjalanan pulang Rusdin ke kampung halamannya Kaledupa setelah bekerja selama sembilan bulan sebagai TKI ilegal di Malaysia. Saya diajak karena kapal yang ditumpangi Rusdin dari Nunukan akan transit di Makassar. Saya mengiyakan tanpa pikir lama karena memang sudah lama saya ingin ke Wakatobi, apalagi Pulau Hoga setelah melihat liputan Riyanni Djangkaru dalam program tv Jejak Petualang.

Sebelumnya, Rusdin sudah menelepon saya lebih dulu. Namun ia hanya menanyakan kabar dan memberitahukan bahwa sebentar lagi ia akan pulang. Saya memang sudah tahu bahwa ia berada di Malaysia. Namun setelah mendengar penjelasan Mbak Dian, saya sontak kaget mengetahui bahwa ternyata Rusdin bekerja sebagai TKI ilegal di sana. Suatu waktu, Rusdin pernah menelepon saya dari Malaysia. Ia mengabarkan bahwa saat itu ia berada di Kuala Lumpur bersama teman-teman seorganisasinya, Forkani, untuk suatu kegiatan sosial.

***
Malam minggu 21 November 2009 sekitar pukul 10.00 lebih, saya menjemput Rusdin di pelabuhan Makassar bersama Zery, utusan Kampung Halaman yang akan bertugas sebagai juru kamera. Zery juga sudah kami kenal sejak di Jogja. Waktu itu, dia dokumentator selama workshop IYMC. Dia sudah tiba di Makassar sejak pukul 11 siang harinya.

Saat bertemu Rusdin di pelabuhan yang suasananya saat itu sudah sepi, saya lumayan kaget melihat beberapa perubahan pada diri Rusdin. Kulitnya semakin putih dan badannya nampak agak lebih gemuk. Hanya anak-anak jerawat di pipinya saja yang tidak berkurang. Namun menurut Zery, Rusdin tidak ada perubahan dalam bobot badannya. Entahlah siapa yang benar karena kami berdua sama-sama melihatnya dengan mata mengantuk oleh rasa capek setelah membahas mengenai proses syuting dan jalan-jalan sore memperkenalkan Zery tentang sekitar rumahku, Pasar Terong dan Masjid Al-Markaz yang letaknya tepat di depan area pasar sambil menunggu kedatangan Rusdin.

Setelah menjemput Rusdin, dengan menumpang taksi yang sama, kami mencari tempat makan. Rencananya, saya ingin mengajak mereka menikmati Coto Nusantara yang sangat terkenal di Makassar. Namun Pak Supir memberitahu bahwa warung yang terletak di Jalan Nusantara, yang sebenarnya bisa ditempuh dengan jalan kaki dari pelabuhan, biasanya sudah tutup pukul 2 siang. “Begitu dek, kan warungnya laku keras, makanya makanannya cepat habis dan cepat tutup juga” jelasnya sambil menyupir santai. Sebenarnya saya tahu, namun saya lupa akibat terlalu lelah dan sangat mengantuk.

Saya kemudian menyuruh Pak Supir menuju Coto Gagak di Jalan Gagak. Saya ingin sekali mereka mencoba aroma coto langsung di Makassar. Rusdin juga mengaku belum pernah mencicipi. Namun lagi-lagi tidak jadi karena lumayan jauh jaraknya. “Cari tempat makan yang dekat-dekat sini saja” ujar Zery tidak sabar. Saya tahu dia juga kecapekan dan didera kantuk. Akhirnya kami singgah di restoran Mi Titi di Jalan Irian, kurang lebih 3 menit menumpang taksi dari pelabuhan.

Setelah makan, kami langsung pulang ke rumahku. Kali ini dengan taksi yang berbeda. “Rumahmu jauh tidak, Fik, dari sini?” tanya Rusdin yang duduk di samping saya di jok belakang sambil melihat-lihat kota Makassar menjelang tengah malam dari balik jendela taksi. Saat saya menoleh melihatnya, rasa lelah dan ingin segera istirahat tergambar jelas dari mukanya. “Tenang aja, bentar lagi kok. Paling lima menit. Capek ya, Din?” sambil tersenyum saya bertanya meski sudah tahu jawabannya. Di jok depan samping supir, Zery hanya duduk diam setelah sibuk menggeluti kamera.

Niat Awal ke Malaysia dan Jalur Ilegal

Setiba di rumahku, kami ingin segera tidur. Namun Rusdin terlanjur cerita mengenai alasannya ke Malaysia dan bagaimana ia bisa sampai ke negeri jiran itu. Terpaksa kami menunda niat awal selama kurang lebih satu jam. Zery pun melaksanakan tugasnya merekam percakapan saya dengan Rusdin.

Rusdin lahir pada 12 Juli 1990 di Malaysia. Ayahnya orang asli Buton Wakatobi, sementara ibunya asli Malaysia. Keduanya bertemu ketika Pak Rahidun, ayah Rusdin bekerja di sebuah kapal pengangkut komoditi ekspor yang sering berlayar hingga ke perairan Malaysia. Mereka kemudian menikah dan menetap di sana. Ketika Rusdin masih balita, keduanya bercerai. Konon karena Ibu Sitti,ibu kandung Rusdin main serong dengan seorang lelaki yang kini jadi suaminya.

Setelah melalui proses pengadilan, hak asuh anak diputuskan jatuh ke tangan Pak Rahidun. Setelah bercerai, beliau membawa Rusdin pulang kembali ke Wakatobi. Di sana beliau menikah lagi dan sekarang memilki empat orang anak yang masih kecil-kecil, saudara saudari tiri Rusdin. Anak tertua duduk di kelas 6 SD. Sejak kepindahan mereka kembali ke Indoneisa, Rusdin tidak pernah lagi bertemu ibu kandungnya.

Rusdin kemudian dibesarkan bersama ayah kandung dan keluarga tirinya, sampai sekarang. Meski begitu, Rusdin mengakui bahwa ibu dan saudara-saudari tirinya sangat baik dan tidak jahat seperti di kisah-kisah negeri sinetron dan dongeng. Namun naluri seorang anak yang rindu ibu kandungnya tidak bisa dipungkiri. Rusdin ingin sekali melihat wajah ibu kandungnya. “Aku kan tidak tahu mukanya gimana karena waktu orang tuaku cerai kan aku masih kecil sekali, belum ingat apa-apa” ujar Rusdin.

Untuk mewujudkan impiannya, Rusdin bekerja membantu ayahnya bertani rumput laut. Selain itu, Rusdin juga penyanyi kondang di kampungnya. Upah yang diperoleh dari hasil kedua kerjanya itulah yang ditabung untuk modal berangkat ke Malaysia menemui ibunya.

Suatu hari, seorang tetangganya kembali ke Kaledupa setelah merantau lama di Malaysia dan mengabarkan Rusdin bahwa dia bertemu ibunya di sana. Melalui informasi tetangganya, Rusdin menelepon ibunya. Ia dikirimi uang 700 ribu rupiah. Ditambah dengan hasil tabungannya, Rusdin pun memberanikan diri berangkat ke Malaysia pada Februari 2009.

Kapal Rusdin berlabuh dari pelabuhan Makassar menuju Nunukan sebelum ke Malaysia. Di Nunukan, ia punya seorang paman yang mengurus segala proses dan persyaratan administrasi untuk ke Malaysia. Namun Rusdin mengalami yang namanya birokrasi tak jelas juntrung. Ia harus membayar 800 ribu rupiah untuk mendapatkan paspor, itu pun paspor lintas berwarna merah yang tentu berarti jalur tak resmi, alias ilegal.

Sesuai persyaratan, setiap bulan Rusdin harus ke Nunukan untuk mendapat stempel paspor sebab masa berlaku paspornya hanya sebulan. Biaya ke Nunukan ditanggung sendiri oleh masing-masing pemilik paspor. Rusdin tidak menyanggupi. Jadilah ia pendatang yang selama di sana berstatus ilegal. Menurut cerita Rusdin, pemeriksaan oleh aparat sangat ketat dan di mana-mana. Namun ia selalu punya siasat tersendiri untuk lolos. “Ya kita berlagak kayak orang sana saja. Berpakaian seperti mereka, cara bicara pun harus mirip-mirip cara mereka. Terus yang paling penting, jangan gugup apalagi takut kalau ada aparat. Santai saja!” ujar Rusdin juga dengan santai.

Niat Berubah

Setibanya di Malaysia, Rusdin dijemput ramah oleh ibu kandung dan keluarga tirinya di Tawaw. Menurut cerita Rusdin, saat pertama kali bertemu, ibunya memeluknya sangat erat dan menangis terharu. Namun Rusdin biasa saja. “Mungkin karena aku tidak pernah melihatnya sebelumnya. Jadi serasa bertemu dengan orang yang belum kukenal, sekalipun itu ibu kandungku sendiri”. Dengan menumpang mobil teman ayah tiri Rusdin, ia dibawa menuju tempat tinggal keluarga ‘barunya’ di daerah Batu 21. Di sanalah Rusdin tinggal, namun hanya sementara selama ia sembilan bulan di Malaysia.

Mulanya keluarga barunya tersebut senang dengan kedatangan Rusdin. Mereka melayaninya dengan baik, santun, dan ramah. Namun tidak lama waktu berlalu, ibunya yang bekerja menabur pupuk sehari-hari di sebuah lahan pertanian, mengusir Rusdin tanpa sebab yang pasti. “Mungkin sekali karena ibuku masih menyimpan dendam terhadap bapak” kata Rusdin. Saya sendiri tidak habis pikir mendengar rangkaian cerita ini. Saya kurang yakin. Rusdin memang selalu bercanda, dan tidak jarang setiap bercanda mimiknya seperti orang yang serius. Seperti cerita di sinetron-sinetron kacangan, gumamku dalam hati. “Aku juga nggak tahu ada apa sebenarnya. Tapi ya sudahlah, aku memilih minggat” sambung Rusdin seperti menebak pikiranku. Saya yakin ia sedang tidak bercanda.

Akhirnya niat awal Rusdin ke Malaysia untuk sekedar bertemu ibu kandungnya berubah total. Ia ingin segera pulang dan tidak lagi menganggap ia punya keluarga di Malaysia. “Istilahnya nih ya, binatang pun sayang dengan anak-anaknya” ujar Rusdin serasa tanpa beban. Namun sebelum keluar dari rumah dan tidak pernah kembali lagi, ada seorang tetangganya yang menyarankan Rusdin bekerja di sebuah restoran sea food. Tetangganya itu ditawari untuk bekerja di sana sebab ia pernah bekerja di dekat restoran itu sebelumnya. Namun tawaran tersebut diserahkan ke Rusdin. Rusdin pun mau dan segera melamar jadi pegawai.

Rusdin kembali menemui kesulitan saat melamar kerja. Ia tidak memiliki My Card, kartu yang digunakan orang di sana untuk melamar pekerjaan. Kartu ini bisa dicek di komputer untuk mengetahui apakah si pelamar warga negara Malaysia atau tidak. Tapi Rusdin tidak habis akal, ia menunjukkan sebuah surat sumpah (semacam akte kelahiran menurut Rusdin) yang di dalamnya tertera bahwa Rusdin lahir di Malaysia. Di surat tersebut, ada enam nama sebagai saksi. Dengan surat itu, lamaran kerja Rusdin diterima. Belakangan Rusdin tahu bahwa ketujuh pekerja di restoran tersebut semuanya merupakan pekerja ilegal. “Ternyata mereka lamarnya tidak pakai apa-apa” kata Rusdin.

Suka Duka selama Bekerja

Rusdin bekerja sebagai tukang cuci piring di restoran itu. Setiap hari ia harus menunaikan tugasnya mulai pukul 6 sore dan baru pulang pukul 5 subuh. Setiap ada waktu senggang di sela-sela kesibukannya bekerja, ia pergi ke belakang restoran untuk menyendiri, memikirkan sanak keluarga, teman-teman, dan kampungnya Kaledupa. Rusdin berkisah mengenai suka duka yang dialaminya selama bekerja di sana.

Setiap bulan, Rusdin diupah 300 ringgit, dipotong 60 ringgit untuk biaya kos yang disewakan oleh pihak restoran. “Namun jangan kira lebihnya itu banyak. Biaya hidup di Malaysia tinggi. Harga barang-barang mahal. Tau-tau sudah habis itu gaji!”. Meski begitu, bekerja di restoran sea food tidak perlu membuatnya khawatir soal urusan perut. Ia bisa makan dan minum apa pun yang dia mau, termasuk membungkusnya untuk dibawa pulang ke kosnya.

Selain itu, ia mendapat banyak teman baru sesama pekerja ilegal dari berbagai negara dan suku bangsa. “Mereka semua tuh suka sama aku, soalnya kamu tahu sendiri kan aku gimana? Suka ngelucu,humor, ketawa-ketawa” ujar Rusdin berseloroh.

Ia juga bercerita bahwa ia sangat dekat dengan seorang chef di restoran itu. Rusdin sudah dianggap seperti anak kandungnya sendiri, sekalipun koki itu punya anak yang masih kecil. Ia sering mengajak Rusdin bercerita, mengajarinya masak, dan tidak pernah marah kalau Rusdin masak sendiri menggunakan alat-alat dapur . “Aku juga sering diajak main ke rumahnya. Pokoknya dia baik banget”.

Namun semenjak bos pertamanya yang berasal dari India pulang untuk menemui keluarganya, Rusdin mulai merasa tidak nyaman bekerja. Bos pertamanya itu digantikan oleh teman anaknya yang sifat dan sikapnya Rusdin tidak suka, meskipun sama-sama orang India. “Dia suka marah-marah dan selalu nyuruh-nyuruh aku kerja yang bukan pekerjaanku seperti nyapu lantai, ngepel, apalagi lap kipas. Aku kan tidak suka kotor-kotor. Dan kalau lapin kipas kan harus jinjit dan mendongak lama, itu bikin kaki dan leher capek . Aku sangat tidak suka!” jelasnya dengan sedikti kesal.

Sebagai bentuk protes sekaligus perlawanan, Rusdin biasa membanting piring-piring yang dicucinya sehingga menimbulkan bebunyian yang ribut. Kalau ada yang pecah, Rusdin segera menyembunyikan pecahan-pecahan tersebut di bawah meja atau di mana saja asal tidak ketahuan. “Tanganku kan lebih lincah dari matanya bos. Tidak ada yang pernah ketahuan tuh! Selain itu, dia juga sering sekali ke dapur. Berlagak sok cari sesuatu. Padahal aku tahu apa maunya, mata-matain dan nyari-nyari kesalahan kita . Kalau sampai lapor yang bukan-bukan sama bos pertama, awas saja!” ujarnya dengan ekspresi seperti mengancam.

Rusdin pernah cerita bahwa dia sebenarnya bisa dengan mudah untuk membuat bos dan restoran tempatnya bekerja jera, kalau dia mau. Menurut Rusdin, ia bisa saja melapor ke polisi dengan membeberkan bahwa semua pekerja di restoran itu adalah ilegal. Rusdin mengatakan bahwa kalau ketahuan, restoran tersebut akan didenda 3 sampai 4 juta rupiah per pekerja. “Tidak apa-apa aku juga masuk penjara 3 bulan, yang jelas restorannya rugi”. Namun Rusdin tidak tega teman-temannya kehilangan pekerjaan. Apalagi para aparat sudah sering makan di restoran tersebut dan diberi harga murah serta dibaik-baikin oleh bosnya.

Pulang

Rusdin bertahan di Malaysia selama sembilan bulan. Ketika ia mengabarkan teman-teman kerjanya bahwa ia akan pulang, mereka kaget dan sedih. Terutama Chef Pating, koki yang sangat baik itu. Rusdin berkata bahwa dia sempat menahan-nahannya untuk tetap di Malaysia. Dia bahkan langsung mencarikan Rusdin pekerjaan malam itu juga asalkan Rusdin tidak dulu pulang. Baru beberapa hari setelahnya dia menemukan pekerjaan baru untuk Rusdin, yakni sebagai room boy di sebuah hotel. Namun, Rusdin tetap berkukuh hati ingin pulang sekalipun gaji kalau mau bekerja di hotel itu lebih tinggi dari sebelumnya. Akhirnya, Rusdin pulang ke Indonesia November 2009.

Sama seperti ketika berangkat, Rusdin pulang melalui jalur ilegal. Di pelabuhan Tawaw, ia bersama rombongan lain yang juga sama-sama ilegal tidak naik kapal laut resmi, melainkan perahu kayu di sebelah pinggiran pelabuhan. Di tengah laut, mereka lalu berpindah ke speed boat yang sudah sejak tadi menunggu. Inilah yang digunakan menuju Nunukan.

Tiba di Nunukan, Rusdin yang dimakelari oleh seorang yang disebutnya ‘paman’ mencari penginapan. Ketika hendak pulang, uang Rusdin tidak cukup untuk sampai di kampungnya Kaledupa. Ia hanya sanggup bayar hingga kapal yang ditumpanginya transit di Pare-pare. Rusdin pun menjaminkan ponselnya sebagai uang tambahan. Rencananya, jika sudah tiba di kampung nanti, ponsel tersebut akan diserahkan kepada si ‘paman’.

Namun, bukan Rusdin namanya kalau tidak panjang akal. “Kebetulan aku punya teman yang baru kenal di kapal. Dia juga orang Indon. Pas aku curhat, dia langsung nolongin aku. Untunglah dia ada kakak yang kerja di kapal itu” ujar Rusdin di sebuah sms ketika saya mengkonfirmasi beberapa hal saat ingin menuliskan artikel ini. Akhirnya selama menuju Makassar, Rusdin bersembunyi di kamar pribadi awak kapal tersebut saat pemeriksaan tiket. “Deg-degan juga sih, tapi mau apa lagi” lagi-lagi ungkapnya dengan mimik santai. Ponsel Rusdin pun tidak jadi sebagai jaminan.

Saya tiba-tiba mengernyitkan dahi ketika Rusdin menyebut ‘Indon’. Setahu saya, masyarakat Indonesia di Malaysia tidak nyaman dipanggil demikian karena dianggap melecehkan. Namun saya tidak sempat menanyakan kepada Rusdin perihal ini. Saya memilih membiarkannya lanjut bercerita.

***
Uang yang dipakai Rusdin untuk melanjutkan perjalannya yang terakhir menuju kampung halamannya merupakan pinjaman dari Kampung Halaman. Belakangan Zery memberitahu keluarga Rusdin bahwa uang tersebut “tidak usah dibalikin, biarin aja”.

Ketika saya tanya apa sebanarnya yang menjadi alasan Rusdin memutuskan untuk pulang, ia menjawab mantap dengan suara yang agak menurun,”Aku ingin menemani ayah dan melihatnya hingga tua. Aku tidak mau seperti remaja Kaledupa lain yang ditinggal ayahnya dan tidak pernah kembali”. Memang, menurut data dari www.jalanremaja1208.org, dari 5338 keluarga, lebih 600 di antaranya tidak berayah akibat perantauan yang lupa pulang tanpa berita.

Jam sudah menunjukkan hampir pukul 11 malam. Percakapan selesai, Zery mematikan kamera. Akhirnya kami pun bisa beristirahat, melepas segenap lelah dan mengisi kembali tenaga untuk melanjutkan syuting keesokan harinya.


*Didedikasikan untuk Rusdin*

Omar Menyuntikkan Hentak Hip Hop dalam Puisi

What a day! Itulah yang diungkapkan citizen reporter Muhammad Arief Al Fikri setelah mengikuti kegiatan Omar Musa, artis hip hop dan penyair asal Australia yang hadir di empat acara secara maraton di Makassar, 15 Oktober lalu. Dari Omar, Fikri belajar banyak tentang dunia kreatif, upaya refleksi dan perenungan, kepenyairan dan pergelutan dengan identitas diri serta berbagai persoalan sosial, meski tetap ingin tampil asyik seperti layaknya anak muda kebanyakan. (p!)

Omar Musa adalah seorang seniman yang menyebut dirinya penyair dan penyanyi hip hop. Ia sangat kreatif. Menciptakan dimensi baru dalam dunia permusikan dan kepenyairan dengan menampilkan puisi dalam bentuk nyanyian hip hop. Di usianya yang terbilang muda, 25 tahun, Omar telah menjuarai Australian National Poetry Slam, tahun lalu.

Sebelumnya, ia sudah sering menyabet gelar juara dalam berbagi perlombaan poetry slam. Ia baru saja merilis album perdananya berjudul The Massive EP. Semua lagu ditulis di London, Inggris dan direkam di Seattle, Amerika. Ia juga menerbitkan buku antologi puisi pertamanya berjudul The Clocks. Lagu dari album dan kumpulan puisinya inilah yang dipersembahkan dalam empat penampilan di Makassar . Hasilnya…semua orang terkesima, merapat, menyimak kisah yang dituturkannnya, terhibur dengan puisi yang dilagukannya.

Omar memang memiliki identitas yang unik. Ia seorang muslim (mengucapkan assalamu alaikum di setiap awal pentas), ia peranakan Malaysia-Australia-Irlandi
a. Ayahnya asli dari Sabah, penyair dan penulis. Yang dalam wawancara radio disebut Omar, memiliki suara yang jauh lebih indah. Sedangkan ibunya dosen sastra dan jurnalis. Mulanya, orang tuanya tidak mendukung karir yang dijalani Omar saat ini. Bagi sang ayah, dia tidak ingin anaknya jadi seniman seperti dirinya. “They wanted me to be a lawyer” kata Omar lalu tertawa kecil. Tapi sekarang mereka sudah mengerti dan mendukung sepenuhnya.

Saat ini, Omar menetap di Queanbeyan, negara bagian New South Wales, Australia bersama keluarganya. Ia juga mengajar anak-anak Aborijin dan sering berkeliling dunia.

Kunjungannya ke Makassar merupakan bagian satellite event Ubud Writers and Readers Festival bekerjasama dengan Makkunrai Project, Panyingkul!, Bengkel Sastra UNM. Omar bersama puluhan penulis berada di Ubud, Bali selama seminggu sebelum memulai perjalanan ke Yogyakarta, Makassar dan Jakarta. Dari menjelang siang hingga menjelang larut malam hari Kamis 15 Oktober, saya mengikuti kegiatan Omar.

Setelah melakukan pementasan, kami jalan-jalan, wisata kuliner dan mengobrol tentang proses kreatif dan kesehariannya. Ia memukau puluhan mahasiswa dan dosen di Panggung Sastra Daeng Pamatte Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Makassar (UNM), ia jadi idola dan menyebabkan histeria saat tampil di panggung terbuka SMA Katolik Cendrawasih. Anak-anak muda mendekat dan menyimak penampilannya dengan penuh rasa ingin tahu di Kantin Pasar Universitas Hasanuddin (Unhas). Puncaknya, di penghujung acara pentas seni UNM Arts Moment 2009 di Benteng Fort Rotterdam, orang-orang melonjak menikmati hentak hip-hop dan puisi yang didendangkannya.

Awalnya saya merasa kikuk. Juga tidak pe-de. Tapi Omar ternyata ramah dan bersahabat. Sejak makan siang di warung Coto Gagak lalu lanjut minum es kelapa muda dan es teler di depan Fort Rotterdam setelah Omar tampil di SMA Katolik Cendrawasih (Katto’ dalam istilah gaulnya), pelan-pelan kami akrab satu sama lain. Saya kaget, ternyata Omar doyan coto! Satu porsi sedikit lagi ludes, dan Abdi Karya, yang menjadi pendampingnya selama berada di Makassar, bertanya “Want more?” Langsung dijawab Omar tanpa malu,”Ya!”. Saya pun seketika tersenyum nyaris tertawa. Tapi saya senang ia tidak malu-malu. Ini tentu semakin membuat kami merasa nyaman satu sama lain.

Omar bercerita mengenai sejarah singkat musik hip hop yang menurutnya berawal dari aliran break dance. Hip hop dianggapnya sebagai genre musik yang paling pas mengekespresikan puisi-puisi yang ditulisnya. Bayangkan, puisi yang dijadikan lagu hiphop! Ia juga membagi cerita yang lebih personal seperti masa SMA-nya di Australia, makanan kegemarannya: sop (apa pun sopnya) dan minuman favorit nomor satu yang selalu dicarinya: es kelapa. Sungguh sangat Asia dia soal makanan!

Tapi Omar tidak hanya ingin didengarkan. Ia juga menyimak cerita orang-orang yang ditemuinya. Ia mengangguk-angguk serius mendengar keluhan krisis listrik di Makassar. Ia juga sangat tertarik dengan cerita-cerita kami –khususnya dari Abdi Karya - mengenai kesenian dan kuliner tradisional Indonesia, terutama Makassar. Sepanjang perjalanan, Omar juga diperdengarkan lagu-lagu daerah Bugis Makassar dan dangdut yang sengaja diputar Abdi selama perjalanan dari Fort Rotterdam ke Unhas dan dari Unhas ke Kafe Baca Biblioholic. Iramanya mirip dengan lagu-lagu India, kata Omar.

Jalan hidup hip hop

Tampil di empat acara dalam satu hari memang melelahkan. Tapi Omar begitu bersemangat. Ia membawakan lagu-lagunya lalu membagi ragam kisah pengalaman hidupnya.

Dia mampu membuat anak-anak remaja di SMA Katolik Cendrawasih bertepuk dan bergoyang. Suasana sungguh cair. Makin lama makin heboh. Guru-guru mendekat, ikut larut dalam hentakan hiphop. Perkusi yang ditabuh Abdi menambah hangat suasana. Omar beratraksi dengan gaya cuci piring --begitu saya menyebut gerakan tangan khas DJ memainkan piringan hitam--, ia juga menunjukan gaya menekuk kedua lutut dengan salah satu kaki di depan sambil menunjuk-nunjuk ke bawah dengan satu tangan sementara tangan lainnya memegang mikrofon. Ia lalu menendang udara sambil memutar badan.

Omar malah spontan mengarang dan menyanyikan lagu ‘mati lampu’ karena memang pada saat itu listrik sedang padam. Tawa pun seketika pecah. Pokoknya, sorak sorai, gelak tawa dan tepuk tangan tak henti membungkus suasana siang yang panas. He is a professional performer!

Di Kantin Pasar, Omar berkisah saat masih berusia ingusan, 8 tahun, penyair besar Indonesia almarhum WS Rendra pernah datang ke kota tempat tinggalnya di Australia, membawakan puisi di depan banyak orang. Omar mengaku kagum menyaksikan penampilan Rendra. Ia takjub bagaimana sajak-sajak bisa disampaikan dengan ekspresi, intonasi, dan gaya yang begitu berciri khas. Saya dan penonton lain yang semuanya mahasiswa tidak menyangka sekaligus bangga, Omar ternyata terinspirasi oleh penyair Indonesia.

Menurut Omar, Indonesia memiliki sejarah panjang dalam budaya literasi , termasuk puisi yang membuatnya tertarik, karena orang Indonesia punya cara lain yang lebih kreatif dan lebih nyambung ke penonton dalam menampilkan puisi. Ia tidak ingin sekedar membacakannya, ia ingin menyampaikannya dalam kemasan segar. Iwan Fals dan Ebiet G. Ade adalah dua contoh seniman Indonesia yang membawakan syair-syair puitiknya melalui lagu-lagu balada yang lebih mudah dan lebih asik dinikmati oleh semua kalangan usia.

Inspiring idol -nya adalah artis hip hop Tupac Shakur asal Amerika yang meskipun di beberapa lagunya banyak kata kasar dan jorok, namun ada juga yang mengangkat tema-tema manusiawi dan persoalan moral dengan bahasa sopan.

Lantas, kenapa memilih hip hop?

Omar bercerita bahwa awal kecintaannya terhadap musik hip hop adalah ketika berumur 12 tahun. Selain itu, dia juga suka dengan syair dan puisi. Lambat laun, sebagai kaum muda, Omar sangat menyadari bahwa perlu ada inovasi untuk keluar dari cara-cara berpuisi yang konvensional ke dimensi yang lebih kontemporer. Bagi Omar, hip hop sebagai musik yang banyak digandrungi anak-anak muda masa kini adalah senjata paling ampuh untuk membuat mereka tertarik mengapresiasi puisi. Membaca, mendengarkan, memahami, dan bahkan kalau bisa, juga membuat puisi. Omar juga ingin mereka tidak lagi hanya mendengar musiknya (hip hop), tanpa tahu pesan yang disampaikan lagunya lalu sok asik setiap menyanyikannya.

Kedua, bahasa yang digunakan dalam ber-hip hop mudah dipahami siapa saja alias simpel, namun tetap sarat ekspresi emosional. Tidak perlu banyak diksi atau istilah yang dipermainkan sana-sini, seperti yang dilakukan para penyair lain, sehingga yang mengerti hanya mereka yang sarjana, budayawan, sastrawan, kritikus dan sebagainya. Ia ingin syairnya bisa dinikmati semua level usia dan semua kalangan.

Ketiga, karena kesederhanaan bahasa hip hop itu sendiri, jadi bisa dibuat secara spontan. Misalnya ketika duduk-duduk santai sambil berdiskusi bareng teman, atau seperti yang dilakukan Omar sendiri sewaktu manggung di SMA Katolik Cendrawasih

Ironisnya, banyak yang ‘memanfaatkan’ spontanitas hip hop tersebut untuk saling mencaci maki, mencela, dan mengekspresikan amarah atau protes mereka dengan kata-kata kotor nan jorok, seperti yang ditemukan dalam karya pemusik hip hop mainstream. Namun bagi Omar, hal itu tidak bisa dihindari, tapi ia sendiri ingin menunjukkan lewat hip hop ia bisa memperkenalkan bahasa puitis.

“Kenapa saya memilih hip hop untuk menyanyikan puisi saya? Karena inilah musik generasi sekarang. Saya sendiri tidak yakin apakah akan menggunakan hip hop juga jika lahir 15 atau 30 tahun lalu. Saya mungkin akan pilih genre lain bila lahir 15 tahun ke depan, yang menyajikan tren musik lain…”

Ayah, Nenek, dan Sepatu Nike

Omar memang penyanyi hip hop. Tapi lagu-lagunya tidak menyebut-nyebut perempuan, kekerasan, senjata, atau drugs dengan bahasa seronok juga vulgar. Sebaliknya ia bercerita tentang pengalaman sehari-harinya, pergulatan dan hubungan dengan sesame manusia. Ada juga isu-isu sosial berdasarkan pengalaman dekatnya, seperti kemiskinan yang ia jumpai di beberapa negara yang sudah dikunjunginya.

Ada dua puisi Omar yang sangat menyentuh dalam empat penampilannya di Makassar. Pertama, Father, yang bercerita tentang hubungan ayah dan anak. Anak kecil dalam puisinya selalu merasa ayahnya seperti raksasa. Tapi semakin tumbuh besar, relasi anak-ayah pun semakin egaliter, bahkan sering salah paham dan pertengkaran pecah. Suatu saat ia memutuskan untuk pindah ke Amerika, sementara ayahnya tetap tinggal di Australia. Sewaktu ia pulang karena ayahnya sakit dan sudah terbaring sekarat di rumah sakit, ia pun semakin menyadari betapa dirinya memang banyak kemiripan dengan ayahnya, di antaranya warna kulit mereka sama dan memiliki selera humor yang sama. Ketika ayahnya meninggal, ia pun menyesal. Banyak sekali yang belum ia ceritakan kepada ayahnya. Ia berandai-andai, jikalau ayahnya sekarang masih hidup, ia akan menceritakan banyak hal mengenai pengalaman yang dijumpainya selama ini.

Setiap ia menyanyikan puisi Father ini, Omar selalu menatap ke satu titik. Cukup lama. Seakan ia memvisualisasikan potret ayahnya dan memutar segenap rekaman kenangan bersamanya. Mendengar ini, saya teringat film dengan kisah serupa yang dibintangi oleh Jim Broadbent dan Colin Firth, And When Did You Last See Your Father?

Cerita lain yang tidak kalah menyentuh dan membuat banyak penonton ikut terharu adalah kisah sepatu Nike dan neneknya dalam puisi When Nike Just Released Airforce Series. Pernah, suatu saat, tokoh dalam puisi ini mendapat kerja sambilan dan dibayar dengan upah 300 dollar. Dengan uang itu ia pun berkeinginan membeli sepatu Nike saat itu juga. “Kan sepatu Nike sepatunya rapper!” katanya. Ketika bersiap pergi ke toko sepatu, ayahnya menyarankan, “Kamu tidak usah beli sepatu mahal itu. Mendingan kamu kirimkan uang itu ke nenekmu di Sabah sana. Ia kan sangat membutuhkan.” tutur Omar menirukan ayahnya.

Nenek Omar memang miskin. Pekerjaan sehari-harinya adalah sebagai penadah getah karet di pedalaman Sabah. Upah hariannya hanya sebesar ‘tahi kuku’ dibanding upah sekali manggung Omar. “But I don’t care!” lanjut Omar sambil mengibaskan kedua tangannya dengan mimik muka orang meremehkan bermaksud mengulang bagaimana responnya waktu itu. Ia pun tetap pergi ke toko tersebut. Di etalase toko, sepatu Nike yang dipajang dipegang sambil merenung. Omar mengambil dan memerhatikannya kemudian bertanya-tanya dari bahan apa sih sepatu ini dibuat?

Sepatu itu terbuat dari bahan kulit dan solnya dari karet.

Karet? Ia teringat hutan karet di Malaysia. Ya, ia teringat neneknya sebagai penadah getah karet. Ia pun menghubung-hubungkan semuanya. Sepatu Nike seharga 300 dollar, solnya dibuat dari karet. Karet itu tentu didapat dari pohon karet yang getahnya ditadah terlebih dahulu lalu diproses dengan susah payah sampai menjadi sol. Dari manakah karet ini berasal dan siapakah penadahnya? Ia lantas menebak-nebak. Mungkin saja berasal dari Sabah yang ditadah oleh neneknya sendiri. Seketika ia tersadar, bagaimana bisa upah penadah karet seperti neneknya sangat kecil sedangkan bahan baku utama sol sepatu mahal ini adalah karet? Bijakkah jika 300 dollar ia habiskan untuk membeli sepatu bersol karet itu daripada mengirimkannya ke neneknya yang penadah karet?

“Saya meletakkan kembali sepatu itu dan sudah tahu apa yang harus saya lakukan…” kata Omar menutup pembacaan puisinya.

Semua yang mendengar kisah itu terharu lalu memberi tepukan meriah. Omar, dalam hentak hip hop menghadirkan kisah yang puitis dan mengiris.

Di akhir pementasan keempat, ia membungkuk takzim, meneriakkan, “Terima kasih. Makassar is so great!” Lalu ia turun dari panggung. Ia melirik Abdi yang juga kelelahan menabuh perkusi.
Dalam perjalanan pulang, Omar masih harus sabar menebar senyum, membalas sapaan, memberi tanda tangan dan memenuhi ajakan foto bersama. Lelah tapi ia tampak puas.

Malam kami tutup dengan makan malam. Dan seperti yang sudah diduga, lagi-lagi ia memesan segelas es kelapa muda! "Tak ada kelapa segar di Australia....," katanya.

*Bisa juga dibaca di: http://panyingkul.com/view.php?id=1164&jenis=kabarkita *