Selasa, 27 Desember 2011

Meliburkan Diri #2: Susur Ciliwung

Jakarta, 23 Desember 2011.

Kegiatan pertama di Jakarta dalam rangka meliburkan diri adalah ikut kelas teman saya di kampusnya. Teman saya anak teknik elektro UI, dan dia mengajak saya ikut kelasnya jam 10 pagi. Dia ada presentasi katanya. Saya pun tertarik meskipun awalnya sedikit canggung karena selain pakai sendal dan belum mandi (hanya cuci muka), saya tidak kenal siapa-siapa selain dia seorang.

Tanpa saya nyana, saya diperkenalkan oleh teman saya kepada teman angkatannya yang asli Jogja. Dia alumni SMU 1 Yogyakarta yang di Jogja sekolah itu terkenal dengan sebutan ‘teladan’. Kami pun mengobrol, dan rupanya dia juga hobi munggah (naik) gunung. Pembicaraan pun semakin mengalir meski kemudian dia pindah tempat ke teman-teman sekelompok presentasinya.

Singkat cerita, saya duduk di bagian belakang kelas. Saya memanfaatkan momen ini untuk mengamati anak-anak UI sekaligus membandingkan mahasiswa Jakarta dengan mahasiswa ‘Jawa’. Memang ada perbedaan. Keduanya punya ciri khas. Mahasiswa Jakarta cenderung ‘semau gue’ dan mahasiswa Jawa cenderung ‘alon-alon waton kelakon’. Halah!

Malam harinya, saya sedang dalam jaringan (online) di twitter. Di linimasa (timeline), ada twit dari @tjiliwoeng yang di retweet oleh @generationid. Isinya mengundang siapa pun bagi yang ingin ikut susur Sungai Ciliwung dengan perahu karet keesokan paginya, jam 8. Saya pun langsung tertarik dan menghubungi contact person nya.

***
Jakarta, 24 desember 2011

Besoknya, sabtu pagi mendekati jam 8, dengan berbekal informasi dari teman yang saya tumpangi apartemennya di Margonda Residence, saya berangkat ke Stasiun Pondok Cina di daerah Depok. Berdasarkan informasi contact person tadi, di situlah tempat kumpul sebelum berangkat. Meski sebenarnya masih sangat mengantuk tapi saya juga sungguh semangat. Saya membranikan diri menyusuri gang-gang sempit dan rel-rel kereta sekitar kampus UI.

Singkat cerita, tibalah saya di ondok cina. Sekitar setengah jam menunggu dan sepengamatan saya tidak ada tanda-tanda rombongan @tjiliwoeng itu, saya mengirim pesan ke contact person nya. Rupanya kumpulnya di Gramedia, seberang jalan stasiun. Saya pun langsung ke sana. Di sana, sudah ada beberapa orang yang berkumpul.

Awalnya saya berjalan melewati rombongan itu, meskipun sudah melihat seorang gemuk berkaos hijau dengan tulisan "Komunitas Peduli Ciliwung Bogor". Saya lewati dulu karena saya bingung harus berkenalan bagaimana. Akhirnya setelah kira-kira 2 meter lewat, saya kembali dan langsung nyamber "Mas, ini yang mau susur ciliwung itu ya?" dan alhamdulillah segera dijawab iya. Dia dan seorang temannya menanyakan saya dari mana, sama siapa, dan tahu informasi susur ini dari mana. Saya pun menjelaskan.

Melihat rombongan yang mau berangkat, saya seketika kaget. Pertama, karena rata-rata dari rombongan itu punya kenalan, sementara saya tidak. Ada yang sekeluarga dan ada juga yang bareng teman-temannya. Awalnya saya sudah mengajak dua orang teman saya, tapi karena satu dan lain hal mereka tidak ikut. Jadilah, saya betul-betul sendirian. Hal kedua yang bikin saya surprised adalah bahwa dalam rombongan itu, ada juga beberapa dari media: metro tv, tv one, mnc tv, tempo, dan beritasatu.com. Saya kira, ini adalah kegiatan yang dilakukan oleh komunitas kecil plus tidak populer dan yang ikut paling beberapa orang, serta sama sekali tidak kepikiran akan ada media yang ikut serta. Tapi sutralah, saya toh tetap santai saja!

Sekitar jam 9 lewat kami berangkat. Ada sekitar 7 mobil kalau saya tidak salah ingat. Saya semobil dengan kru beritasatu.com. Salah seorang krunya mengajak berkenalan dan mengobrol. Dia bertanya-tanya bagaimana ceritanya saya bisa ikut kegiatan ini. Mendengar kronologi keikutsertaan saya di mana ada alur Makassar-Jogja-Jakarta-Depok di dalamnya, dia langsung berkomentar,"Wah iseng juga lu ya ikut beginian. Tapi baguslah!". Dan saat kru tersebut tahu bahwa saya kuliah di jurusan Antropologi Budaya, saya kaget mendegar respon mereka yang serentak,"Waaah, hebat..hebat!". Kagetnya saya adalah bahwa sangat jarang saya mendengar respon seperti itu setiap kali mengucapkan nama jurusan saya. Kalau bukan 'gali batu', ya 'liat-liat bintang' yang seringnya saya temui. Tapi kali ini, saya senang dan cukup bangga mendengarnya.

Tempat berkumpul kedua sebelum berangkat tidak jauh dari Gramedia Depok, ditempuh dengan berjalan kaki pun bisa. Di situ, segala persiapan dilakukan. Perahu-perahu karet yang asoy geboy itu yang akan digunakan untuk penyusuran, dimpompa terlebih dahulu. Saat briefing dan sebelum berdoa, saya baru tahu bahwa selain dari individu, kelompok, dan media, ada beberapa komunitas yang terlibat, seperti Green Camp Halimun sebagai penyedia perahu karet, Komunitas Histeria Indonesia, Komunitas Ciliwung Condet, dan ada lagi tapi saya lupa. Saat briefing tersebut, mereka menjelaskan kegiatan-kegiatan mereka yang membuat saya salut akan kecintaan mereka terhadap konservasi alam, terutama ciliwung.

***

Setelah berdoa, kami pun berangkat. Totalnya ada 4 perahu, dengan 8 penumpang setiap perahunya. Saya seperahu dengan rombongan Tempo, TvOne, seorang fotografer perempuan, seorang bapak yang katanya tahu banyak tentang ciliwung dan kegiatan susur ini, seorang dari Green Camp Halimun, dan lagi-lagi kru beritasatu.com. Salah seorang kru dari beritasatu.com ini yang duduk bersebelahan di baris kedua dalam mobil tadi sudah terbiasa menyapa saya dengan "Fik" layaknya sudah akrab, padahal saya sendiri sebenarnya lupa namanya. :)

Meskipun saya merasa asing dan konyol dengan diri saya sendiri ikut kegiatan ini, tapi saya senang. Saya mendapatkan pengalaman yang seru dan berharga. Perahu kami adalah satu-satunya perahu yang tidak bermesin motor. Jadi digerakkan dengan manual: didayung. Sepanjang penyusuran berkali-kali kami melewati arus yang cukup deras, perahu terombang ambing, kecipratan air ciliwung, ketahan bambu-bambu dan sampah di tengah-tengah sungai. Untungnya rekan-rekan media dan komunitas itu punya selera humor yang oke punya. Jadi meskipun sebenarnya kami lumayan was-was setiap kali melihat arus yang cukup deras di depan sana, kami pasti sudah terhibur duluan. Apalagi semuanya bawa kamera dan balckberry (kecuali saya yang tidak punya BB). Ungkapan-ungkapan seperti wah, kamera gua nih!, gua sih kaga apa-apa, tapi kameranya, atau eh BB..BB mending dimasukin plastik sini membuat saya sadar bahwa untuk manusia zaman sekarang, gadget itu lebih berharga dari diri sendiri :p

Setelah kurang lebih dari 2 jam penyusuran, kami tina di pos pertama. Lokasinya di bawah jembatan. Di situ, kami minum dan makan roti yang disediakan penyelenggara dan beristirahat sejenak serta memompa perahu yang agak kempes. Salah seorang memberi instruksi bahwa masih ada beberapa pos, jadi bagi yang ingin melewati jalur darat, silakan bertukar karena masih ada beberapa peserta yang belum ikut susur sungai lewat jalur sungai. Saya dan beberapa orang memustuskan untuk tukaran. Tapi bagi saya pribadi, saya merasa cukup sampai di sini keikutsertaan saya. Selain sudah capek, saya ada janji sama teman mau ke acara Holy Market, yakni acara garage sale yang diselenggarakan oleh Ruang Rupa (komunitas seniman Jakarta) di bilangan Tebet, Jakarta Selatan. Akhirnya, saya pun ngacir. Ini kali pertama saya manjat tanah-tanah miring, becek dan bau karena penuh sampah. Belum lagi sampahnya sudah bercampur amburadul antara yang organik dengan yang non-organik. Kemiringannya juga lumayan curam dan licin, plus banyak semut dan sarang laba-laba.

Setelah tiba di atas (jalan raya), saya segera naik angkot kembali ke Depok. Lagi-lagi saya surprised. Ternyata, setelah lebih 2 jam penyusuran, pos pertama itu tadi adalah masih di daerah Depok, sekitar 2 kilo dari Margonda Residence, tempat teman saya. Saya kira sudah cukup jauh. Saya kaget karena sewaktu melihat alamat di barisan toko-toko di jalan, tertulis "Jalan Margonda Raya'. Saya pun berseru dalam hati jadi dari tadi itu kita masih di Depok aja nih. Saya jadi mafhum, pantesan baru dua gunung sampah yang dilewati dari 38 titik gunung sampah sampai tempat finish, Condet, Jakarta Timur. Dan tidak sampai 5 menit, saya sudah melihat warung Es Pocong, tempat saya dan teman saya makan tadi malam. Warung ini letaknya tidak jauh dari seberang apartemen teman saya dan mengenai menunya, nama-namanya aneh berbau mistis, seperti mie ronggeng, nasi tuyul, mendoan iblis, sate mayat, lontong setan, dan sebagainya.

Meskipun saya tidak sampai selesai ikut susur ciliwung, saya dapat pengalaman yang seru. Selain itu, saya juga sudah melihat bagaimana orang media ketika off-air dan bagaimana ketika lagi on camera, bagaimana sebagian orang Jakarta memandang ciliwung, apa saja yanag ada di ciliwung, dan sebagainya. Meskipun awalnya saya merasa asing, tapi saya sama sekali tidak pernah menyesal ikut susur ciliwung ini.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ruang Tamu